Kanker Serviks Gejala Penyebab dan Cara Menangani

Kanker Serviks Gejala Penyebab dan Cara Menangani
Kanker Serviks Gejala Penyebab dan Cara Menangani

Kanker serviks pada seorang wanita biasanya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari berbagai faktor risiko.

Keberadaan kanker itu juga sering kali baru terdeteksi setelah kondisinya cukup parah.

Pada umumnya, wanita yang memiliki lesi pra-kanker atau kanker serviks stadium awal, tak akan merasakan keluhan apapun.

Keluhan kerap kali baru timbul saat kanker sudah mulai bersifat invasif dan menyerang jaringan atau organ tubuh lain di sekitarnya.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi para wanita maupun siapa saja mengenali gejala kanker ini sebagai langkah antisipasi penyakit makin parah.

Gejala kanker serviks
Melansir buku Menaklukkan Kanker Serviks dan Kanker Payudara dengan 3 Terapi Alami (2012) karya Dr. Lestari Handayani, dr., M.Med (PH) dkk., sedikitnya ada 3 gejala yang sering dikeluhkan oleh para penderita kanker serviks.

Berikut penjelasannya:

1. Perdarahan abnormal

Perdarahan abnormal dapat terjadi sebagai gejala adanya penyakit kanker serviks pada wanita.

Perdarahan abnormal yang dimaksud di antaranya, terjadi saat:

Setelah berhubungan seksual
Setelah menopause
Perdarahan atau flek-flek (spotting) di antara waktu haid
Menstruasi lebih lama dari biasanya
2. Keputihan abnormal dari vagina

Keputihan kadang bercampur dengan darah.

Keputihan tersebut dapat terjadi di antara periode menstruasi atau setelah menopause.

3. Nyeri saat berhubungan seksual

Hubungan badan yang menyebabkan nyeri di pihak perempuan patut dicurigai sebagai gejala kanker serviks.

Cara menangani
Perlu dipahami bersama, ketiga keluhan di atas dapat juga dialami oleh seorang wanita meskipun tidak menderita kanker serviks.

Oleh sebab itu, penting kiranya bagi para wanita untuk segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan di atas sebagai langkah pencegahan.

Melakukan pap smear rutin setahun sekali jelas adalah langkah yang baik untuk mendeteksi kanker serviks lebih dini.

Pap smear adalah sebuah metode pemeriksaan cairan lendir serviks.

Setidaknya ada dua pilihan metode yang bisa dilakukan dalam pemeriksaan pap smear, yakni secara konvensional atau liquid base.

Berikut perbedannya:

1. Pap smear konvensional

Pada metode ini, lendir serviks dioleskan di atas kaca objek, kemudian diperiksa dengan alat mikroskop.

Pemeriksaan ini diketahui sudah dipakai lebih dari 50 tahun dan biayanya terbilang cukup murah.

Namun, metode konvensional memiliki kelemahan, yakni kadang-kadang hasil pengolesan lendir pada kaca kurang merata sehingga dapat menimbulkan bias pada pemeriksaan mikroskop.

Belum lagi, keterlambatan pemberian pengawet pada kaca objek bisa menimbulkan kerusakan pada sel yang akan diperiksa.

Jika terjadi dua hal tersebut, bukan tidak mungkin harus dilakukan pengulangan pengambilan sampel lendir.

2. Pap smear liquid base

Metode ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel lendir menggunakan alat yang menyerupai sikat.

Sikat yang mengandung lendir tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cairan khusus.

Dengan menggunakan alat khusus, cairan yang telah bercampur dengan lendir serviks lantas diperiksa di bawah mikroskop.

Berbeda dengan metode konvensional, cara ini diyakini bermanfaat untuk meminimalkan kerusakan sel yang dialami.

Selain itu, dapat juga menyingkirkan sel jamur, darah, dan unsur lainnya yang ikut terambil ke dalam sampel.

Namun, kekurangan metode ini adalah tarifnya cukup mahal sehingga lebih jarang digunakan dibanding metode konvensional.

Penyebab kanker serviks
Melansir buku Cegah dan Deteksi Kanker Serviks (2010) karya Dra. Hartati Nurwijaya, dkk., penyebab utama timbulnya kanker serviks adalah infeksi virus Human papillomavirus (HPV) risiko tinggi atau HPV onkogenik yang mengandung protein penyebab terjadinya kanker (onkoprotein).

Ada 20 tipe HPV yang telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker serviks, tetapi paling banyak (70 persen) disebabkan oleh tipe 16 dan 18.

HPV pada umumnya ditularkan melalui hubungan seks (90 persen) dan non hubungan seks (10 persen).

Hubungan seks yang tidak aman, terutama pada usia muda, membuat infeksi virus ini lebih memungkinkan terjadi.

Baca juga: 7 Cara Cegah Kanker Sebelum Terlambat

Selain itu, wanita yang memiliki banyak pasangan seks atau memiliki pasangan yang punya banyak mitra seks, juga berisiko lebih besar terjangkit HPV.

Berikut ini beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seroang wanita menderita kanker serviks:

Merokok
Infeksi HIV
Infeksi Chlamydia dan herpen simplex tipe 2
Kekurangan gizi
Orangtua mengonsumsi obat dietilstilbestrol (DES) yang biasa digunakan untuk mencegah keguguran

Diet Pasien Kanker Serviks Pasca Operasi